KLATEN — Masalah pengelolaan sampah domestik masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah. Namun, langkah konkret dan inspiratif justru lahir dari lingkup terkecil masyarakat. Pada Selasa (7/7/2026), sebuah kunjungan lapangan dilakukan di RW 12 Dusun Gajihan, Klaten, untuk meninjau langsung sistem pengelolaan sampah mandiri yang sukses diintegrasikan oleh warga setempat.
RW 12 Dusun Gajihan diketahui memiliki mekanisme manajemen limbah domestik yang sangat terstruktur melalui sebuah program inovatif bernama SEROK, yang merupakan singkatan dari Srikandi Energik Ramah Rosok. Program ini lahir dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomis dari barang bekas.
Dalam pelaksanaannya, seluruh warga RW 12 secara kolektif berkomitmen untuk tidak membuang Sampah Non-Organik (SNO) mereka begitu saja. Setiap pekannya, warga menyetorkan SNO yang telah dikumpulkan dari rumah masing-masing menuju pusat kegiatan SEROK, yang bertempat di kediaman Ketua RW 12.
Di lokasi terpusat ini, proses pengelolaan dilakukan secara transparan dan gotong royong. Sampah-sampah non-organik yang masuk tidak sekadar ditumpuk, melainkan melalui tahap pemilahan yang ketat berdasarkan jenisnya—seperti plastik, kertas, kaca, dan logam. Setelah dipilah, barang-barang tersebut masuk ke dalam sistem pengepulan yang terorganisasi dengan baik untuk kemudian disalurkan agar dapat dimanfaatkan kembali (reuse dan recycle).
Melalui program SEROK, RW 12 Dusun Gajihan membuktikan bahwa edukasi lingkungan yang dimulai dari tingkat rumah tangga dan didukung oleh kebersamaan warga dapat menjadi solusi jangka panjang yang efektif dalam menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).