Aplikasi Layanan Si Mentes
Pemerintah Desa Pandes
Kabupaten Klaten

Desa
Pandes

Login Admin
Statistik Pengunjung
Info Aplikasi
Selamat Datang Di Aplikasi Layanan Si Mentes Desa Pandes, Kec. Wedi, Kab. Klaten

Info

Berita / Artikel

Ketika Generasi Muda Menabuh Gamelan: Kisah Mahasiswa KKN Jejak Pandes Merawat "Rasa" lewat Karawitan Among Roso di Wedi

Suara gender, kenong, dan saron berpadu dengan lantunan sinden yang mengalun hangat dari sebuah pendhapa joglo di Wedi, Kabupaten Klaten, pada Selasa, 14 Juli 2026. Yang membuat suasana terasa istimewa, di antara para niyaga dan pesinden senior yang telah malang melintang di dunia karawitan, tampak pula sekelompok wajah muda dengan rompi lapangan khas mahasiswa: mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta dari kelompok Jejak Pandes, yang malam itu tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar turun tangan memainkan gamelan bersama warga.

Keterlibatan mahasiswa dalam pementasan bertajuk "Among Roso" ini berangkat dari semangat pengabdian masyarakat yang menyasar pelestarian seni dan budaya lokal, sekaligus menjadi ruang belajar lintas generasi antara mahasiswa pendatang dan warga tuan rumah. Sebagian mahasiswa laki-laki dipercaya memainkan instrumen berlaras pelog, sementara beberapa mahasiswi ikut serta mengisi bagian sinden mendampingi para pesinden senior. Bersama-sama, mereka membawakan dua gendhing yang akrab di telinga warga Klaten: "Kuwi Apa Kuwi" dan "Solo Balapan", diiringi tepuk tangan dan senyum hangat dari warga yang hadir memenuhi pendhapa.

Sebelum tampil, para mahasiswa terlebih dahulu dibimbing langsung oleh niyaga senior setempat. "Le, kowe wis tau nyekel kenong opo bonang durung? Mengko dicoba nabuh bareng, ora usah kaku, sing penting rasane melu," ujar salah satu sesepuh sembari mengarahkan tangan mahasiswa ke alat musik pelog. Salah satu mahasiswa, Akar, menjawab dengan sopan, "Dereng nate, Pak. Nanging kula purun sinau. Menawi lepat nabuh, mangga dipun leresaken nggih, Pak." Mendengar jawaban itu, sang sesepuh tersenyum dan berkata, "Apik kuwi semangate. Karawitan iku ora mung soal irama, tapi soal roso lan kompak-kompakan. Makane jenenge Among Roso" — sebuah kalimat yang seolah menjadi ruh dari keseluruhan acara malam itu.

Di sisi lain pendhapa, seorang mahasiswi yang akan tampil sebagai sinden tampak sedikit gugup. Seorang pesinden senior menghampirinya dan menenangkan, "Mbak, sinden kuwi ora usah wedi. Swara sing wis apik, mengko tak dherekke, cukup melu alur gendhinge wae." Mahasiswi itu pun menjawab jujur, "Nggih, Bu. Kula radi deg-degan amargi dereng nate nyinden ing ngajeng tiyang kathah. Mugi-mugi mboten kesupen liriké." Sang ibu pesinden lantas meyakinkannya, "Tenang wae, Mbak. Kabeh warga kene mesti seneng, wong sing penting kowe wis gelem melu nguri-uri budaya Jawa." Kata-kata itu rupanya cukup untuk mencairkan kegugupan sang mahasiswi, yang kemudian tampil percaya diri hingga gendhing usai dibawakan.

Selepas pementasan, decak kagum juga terlontar dari warga yang menyaksikan. "Mahasiswa saiki jebul isih gelem sinau gamelan, ya. Salut kula, Mas, Mbak. Ora saben mahasiswa gelem koyo ngene," ucap salah satu warga sambil tersenyum lebar. Salah satu mahasiswa KKN pun membalas dengan tulus, "Matur nuwun, Pak. Kula malah bungah saged sinau langsung saking pinisepuh ing mriki. Niki dados pengalaman ingkang mboten badhe kelalen."

Malam itu, di bawah cahaya lampu pendhapa dan gema tembang Jawa yang membaur dengan suara tawa, mahasiswa KKN Jejak Pandes UPN "Veteran" Yogyakarta membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas para sesepuh, melainkan juga tanggung jawab bersama lintas generasi.

Komentar

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Total Populasi Desa Pandes

2246 2246

2379 4625

4625

4625 4625

TOTAL : 4625 ORANG

(BELUM MENGISI DATA 4625 ORANG)

2246

LAKI-LAKI

2379

PEREMPUAN

Lokasi Kantor Desa

Alamat:Jl. Ki Narto Sabdo No. 1
Desa : Pandes
Kecamatan : Wedi
Kabupaten : Klaten
Kodepos : 57461

Peta Wilayah Desa

Aplikasi Layanan Si Mentes
Pemerintah Desa Pandes
Kabupaten Klaten

Desa
Pandes

Login Admin
Statistik Pengunjung
Info Aplikasi

Berita / Artikel

Ketika Generasi Muda Menabuh Gamelan: Kisah Mahasiswa KKN Jejak Pandes Merawat "Rasa" lewat Karawitan Among Roso di Wedi

Suara gender, kenong, dan saron berpadu dengan lantunan sinden yang mengalun hangat dari sebuah pendhapa joglo di Wedi, Kabupaten Klaten, pada Selasa, 14 Juli 2026. Yang membuat suasana terasa istimewa, di antara para niyaga dan pesinden senior yang telah malang melintang di dunia karawitan, tampak pula sekelompok wajah muda dengan rompi lapangan khas mahasiswa: mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta dari kelompok Jejak Pandes, yang malam itu tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar turun tangan memainkan gamelan bersama warga.

Keterlibatan mahasiswa dalam pementasan bertajuk "Among Roso" ini berangkat dari semangat pengabdian masyarakat yang menyasar pelestarian seni dan budaya lokal, sekaligus menjadi ruang belajar lintas generasi antara mahasiswa pendatang dan warga tuan rumah. Sebagian mahasiswa laki-laki dipercaya memainkan instrumen berlaras pelog, sementara beberapa mahasiswi ikut serta mengisi bagian sinden mendampingi para pesinden senior. Bersama-sama, mereka membawakan dua gendhing yang akrab di telinga warga Klaten: "Kuwi Apa Kuwi" dan "Solo Balapan", diiringi tepuk tangan dan senyum hangat dari warga yang hadir memenuhi pendhapa.

Sebelum tampil, para mahasiswa terlebih dahulu dibimbing langsung oleh niyaga senior setempat. "Le, kowe wis tau nyekel kenong opo bonang durung? Mengko dicoba nabuh bareng, ora usah kaku, sing penting rasane melu," ujar salah satu sesepuh sembari mengarahkan tangan mahasiswa ke alat musik pelog. Salah satu mahasiswa, Akar, menjawab dengan sopan, "Dereng nate, Pak. Nanging kula purun sinau. Menawi lepat nabuh, mangga dipun leresaken nggih, Pak." Mendengar jawaban itu, sang sesepuh tersenyum dan berkata, "Apik kuwi semangate. Karawitan iku ora mung soal irama, tapi soal roso lan kompak-kompakan. Makane jenenge Among Roso" — sebuah kalimat yang seolah menjadi ruh dari keseluruhan acara malam itu.

Di sisi lain pendhapa, seorang mahasiswi yang akan tampil sebagai sinden tampak sedikit gugup. Seorang pesinden senior menghampirinya dan menenangkan, "Mbak, sinden kuwi ora usah wedi. Swara sing wis apik, mengko tak dherekke, cukup melu alur gendhinge wae." Mahasiswi itu pun menjawab jujur, "Nggih, Bu. Kula radi deg-degan amargi dereng nate nyinden ing ngajeng tiyang kathah. Mugi-mugi mboten kesupen liriké." Sang ibu pesinden lantas meyakinkannya, "Tenang wae, Mbak. Kabeh warga kene mesti seneng, wong sing penting kowe wis gelem melu nguri-uri budaya Jawa." Kata-kata itu rupanya cukup untuk mencairkan kegugupan sang mahasiswi, yang kemudian tampil percaya diri hingga gendhing usai dibawakan.

Selepas pementasan, decak kagum juga terlontar dari warga yang menyaksikan. "Mahasiswa saiki jebul isih gelem sinau gamelan, ya. Salut kula, Mas, Mbak. Ora saben mahasiswa gelem koyo ngene," ucap salah satu warga sambil tersenyum lebar. Salah satu mahasiswa KKN pun membalas dengan tulus, "Matur nuwun, Pak. Kula malah bungah saged sinau langsung saking pinisepuh ing mriki. Niki dados pengalaman ingkang mboten badhe kelalen."

Malam itu, di bawah cahaya lampu pendhapa dan gema tembang Jawa yang membaur dengan suara tawa, mahasiswa KKN Jejak Pandes UPN "Veteran" Yogyakarta membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas para sesepuh, melainkan juga tanggung jawab bersama lintas generasi.

Komentar

Beri Komentar

Komentar Facebook